Gubernur Jateng dalam Soekarno Run 2026Gubernur Jateng saat mengikuti Soekarno Run 2026 di Surakarta. (dok. Pemprov Jateng)

SURAKARTA,Konibara.com – Momen mengharukan sekaligus inspiratif mewarnai pelaksanaan Soekarno Run 2026 di Kota Surakarta, Minggu (28/6/2026). Di tengah ribuan peserta yang memadati garis start, perhatian publik tertuju pada Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi yang berlari sambil mendorong kursi roda putranya, Mohammad Alif Daffa atau akrab disapa Abang.

Aksi tersebut bukan sekadar partisipasi dalam ajang olahraga. Ahmad Luthfi ingin menyampaikan pesan kuat bahwa olahraga harus menjadi ruang yang inklusif, di mana setiap orang, termasuk penyandang disabilitas, memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati kebersamaan dan semangat kompetisi.

Inklusivitas Hadir Lewat Tindakan Nyata

Sesaat setelah aba-aba start dikumandangkan, Ahmad Luthfi mendorong kursi roda putranya menyusuri lintasan kategori 5K Fun Run bersama sekitar 7.500 peserta lainnya.

Sepanjang rute, kebersamaan ayah dan anak itu menjadi simbol nyata bahwa tidak boleh ada kelompok masyarakat yang tertinggal dalam menikmati ruang publik, termasuk kegiatan olahraga.

Kehadiran Abang di atas kursi roda bukan sekadar mendampingi sang ayah. Momen tersebut menjadi representasi bahwa inklusivitas bukan hanya konsep yang tertulis dalam kebijakan, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Komitmen tersebut juga sejalan dengan peran Ahmad Luthfi sebagai Bapak Disabilitas Jawa Tengah, yang selama ini konsisten mendorong pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas di berbagai sektor.

Kobarkan Semangat Bung Karno Sebelum Lomba Dimulai

Sebelum melepas peserta, Ahmad Luthfi membakar semangat ribuan pelari dengan mengutip pidato Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Menurut Ahmad Luthfi, semangat Bung Karno tetap relevan untuk membangun optimisme dan kebersamaan masyarakat.

“Hari ini kita semua akan getarkan Kota Solo, seluruh Provinsi Jawa Tengah, dan seluruh Indonesia dengan lari bersama-sama,” ujarnya.

Selama menempuh lintasan, Ahmad Luthfi juga beberapa kali menyapa masyarakat yang memberikan dukungan di sepanjang jalan. Dengan penuh semangat, ia mengajak peserta terus menjaga energi hingga garis finis.

“Mana suaranya? Ayo lari!” serunya yang langsung disambut riuh tepuk tangan dan sorakan peserta.

Soekarno Run 2026 Diikuti 7.500 Peserta

Soekarno Run 2026 menjadi salah satu ajang lari terbesar di Jawa Tengah tahun ini dengan melibatkan sekitar 7.500 peserta dari berbagai daerah.

Peserta berasal dari beragam latar belakang, mulai dari pelari rekreasional, atlet, anak-anak, komunitas disabilitas, hingga tokoh publik. Mereka mengikuti empat kategori lomba, yakni 10K, 5K Speed Run, 5K Fun Run, dan 1,1K Kids Dash.

Sejumlah tokoh nasional dan daerah juga tampak ikut berlari bersama masyarakat. Di antaranya Anggota DPR RI Aria Bima, Gubernur Jawa Tengah periode 2013–2023 Ganjar Pranowo, mantan Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo, Wali Kota Surakarta Respati Achmad Ardianto, Wakil Wali Kota Astrid Widayani, serta sejumlah kepala daerah di Jawa Tengah.

Atlet Nasional: Keberanian Memulai Adalah Kemenangan

Brand Ambassador Soekarno Run 2026 sekaligus atlet para atletik nasional, Nanda Mei, mengatakan makna utama ajang tersebut bukan semata soal kecepatan maupun panjang lintasan.

Menurutnya, keberanian setiap peserta untuk mengambil langkah pertama merupakan kemenangan tersendiri.

“Terima kasih sudah berani melangkah, berani mencoba, dan tidak pernah menyerah mengeksplorasi diri sendiri. Langkah kita hari ini membuktikan kita mampu berlari di atas kaki sendiri,” kata Nanda Mei.

Inklusivitas yang Melaju Hingga Garis Finis

Di penghujung kegiatan, Ahmad Luthfi bersama putranya melintasi garis finis dengan senyum penuh kebanggaan. Momen tersebut menjadi penutup yang sarat makna.

Melalui langkah-langkah sederhana saat mendorong kursi roda putranya, Ahmad Luthfi menunjukkan bahwa inklusivitas tidak cukup diwujudkan melalui regulasi semata. Nilai tersebut harus hadir dalam tindakan nyata, tumbuh dalam kebersamaan, dan menjadi budaya yang memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai garis akhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *