Berburu Oleh-oleh Khas Tanah Papua

Laporan Khusus dari Tanah Papua

PEKAN Olahraga Nasional (PON) Papua tentu saja memiliki sejarah tersendiri bagi olahraga tanah air, tidak hanya penyelenggaraan yang sangat megah saat opening ceremony dilakukan 2 Oktober lalu, tetapi juga tuan rumah Papua yang sangat kental dengan tradisi dan budaya khasnya.
Selain menjadi sorotan karena sempat tertunda akibat Pandemi Covid 19, PON XX Papua itu tidak hanya menjadi perhelatan olahraga nasional, tetapi juga memiliki peran yang sangat penting dalam mendorong kembangkitan ekonomi di bumi Cendrawasih.
Papua yang identik dengan kesenian khas, tentu saja memiliki cenderamata atau oleh-oleh khas yang tidak dapat ditemui di tempat lain, maka tak heran para pendatang baik atlet, official, perangkat pertandingan, hingga penonton yang hadir memanfaatkan untuk berburu oleh-oleh khas Papua.
Pasar Hamadi yang ada di kompleks pelabuhan Jayapura dan merupakan pasar tradisional yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda ini menjadi target utama para pemburu kerajinan khas Papua.


Pasar Hamadi yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Kota Jayapura ini tidak ubahnya dengan pasar tradisional di kota besar yang ada di tanah air yang menyediakan berbagai kebutuhan pokok masyarakat, hanya saja pasar yang menjadi pusat perputaran ekonomi Papua ini menyediakan beragam oleh-oleh khas Papua.
Aneka kerajinan yang bisa dijadikan oleh-oleh khas ini bisa Anda dapatkan dengan murah di pasar ini, mulai dari gantungan kunci, ukiran kayu, hingga koteka juga tersedia. Deretan toko suvenir yang ada di Jalan Perikanan ini menyediakan aneka oleh-0leh kerajinan khas, mulai dari miniatur rumah honai, tifa, replika, hingga lukisan kulit dan ukiran kayu.
Harganyapun bervariasi, mulai dari Rp 5.000,- hingga jutaan rupiah. Selama perhelatan PON Papua ini, kerajinan kulit kayu yang terlihat seperti lukisan menjadi salah satu incaran para pelancong di Pasar Hamadi sebagai buah tangan khas Papua selain gantungan kunci. Mulai dari lukisan etnik hingga lukisan realisme yang menggambarkan kegiatan masyarakat dilukiskan dengan cantik di atas kulit kayu yang bisa menjadi hiasan mempercantik dinding rumah Anda.
Terlihat menawan dan sangat berkearifan lokal, hiasan itu ternyata dibanderol dengan harga yang cukup terjangkau dimulai dari harga Rp 50.000. Pilihan lukisan yang banyak, menjadikan para pelancong bebas memilih opsi dalam membeli kerajinan kulit kayu. Selain itu, noken menjadi bagian yang paling penting bagi rakyat Papua, noken yang terbuat dari anyaman akar atau kulit kayu ini menjadi buruan para pelancong, sebab rakyat Papua percata noken ini tidak hanya berfungsi untuk menyimpan barang, tetapi juga sebagai simbol pembawa keberkahan.
Selain noken, tas- tas rajutan dari benang yang dibuat mama-mama juga ikut menjadi primadona sebagai buah tangan dari Papua. Tas- tas rajut itu dijual mulai harga Rp 30.000 dari ukuran paling kecil dan harganya bertambah mengikuti ukuran tasnya. Tas itu pun terdiri dari beragam pilihan warna, motif, dan juga ukuran. Hampir seluruh penjual suvenir di Pasar Hamadi menjual noken dan juga tas rajutan yang berasal dari keterampilan para mama- mama Papua.
Ikat kepala merupakan aksesoris pakaian adat Papua yang bisa menjadi suvenir untuk diperhitungkan sebagai oleh-oleh unik dari Tanah Papua. Di Pasar Hamadi, ikat kepala untuk pria yang dihiasi bulu burung kasuari dan ikat kepala untuk wanita yang dihiasi bulu ayam dijual mulai dari Rp 150.000 hingga harga mencapai jutaan rupiah. Ikat kepala menambah kecantikan dan ketampanan penggunanya, selain bisa digunakan sebagai bagian pakaian tradisional, bisa menggunakan ikat kepala sebagai hiasan di rumah Anda.
Rustam (60) pemilik toko Port Numbay Art di kompleks pertikoan Pasar Hamadi mengatakan, selama ini dirinya menjual berbagai kerajinan khas Papua, tidak hanya itu Rustam juga merupakan perajin ikat kepala, bahkan karyanya dipercaya dan digunakan para penari yang terlibat dalam pembukaan PON XX Papua.
Suvenir khusus dua maskot PON XX Papua Drawa dan Kangpho pun menjadi incaran di Pasar Hamadi selama perhelatan PON XX Papua berlangsung. Begitu ikoniknya dua maskot itu, sehingga masyarakat memburu suvenir yang dibubuhi gambar keduanya mulai dari baju, lukisan kulit kayu, hingga aksesoris lainnya.
Tentunya suvenir dengan gambar Drawa dan Kangpho hanya ada secara terbatas oleh karena itu jika anda ingin mengoleksi suvenir Kangpho dan Drawa ada baiknya ada segera membelinya sebelum kehabisan. Pasar Hamadi terletak di Jalan Perikanan Pasar Sentral dan dibuka setiap hari mulai pukul 06.00- 18.00 WIT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *